Desember 2020
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memberanikan diri mengakui perasaanku pada seseorang. Dia adalah sahabat ku sendiri yang telah lama kukenal sejak kami duduk di bangku sekolah dasar. Entah sejak kapan perasaan ku muncul padanya. Tapi satu hal yang kuketahui, aku menyayanginya dengan kesungguhan hatiku.
Sebenarnya kami tuh sempat terpisah waktu SMP, sempat lost contact gitu.
Kemudian di pertengahan SMA, kami kembali berkomunikasi lewat sebuah
grup chat alumni SD. Dan dari situlah persahabatan kami kembali terjalin dan
semakin intens. Persahabatan itu semakin terjalin ketika kami ternyata memiliki banyak kesamaan. Kami juga bukan tipe teman yang setiap hari nongkrong bareng. Apalagi ketika aku harus kuliah di luar kota, aku gak berharap persahabatan ini bisa berlanjut, karena akuberanggapan di antara kami tentunya akan sibuk dengan dunia perkuliahan kami masing-masing. Namun dugaanku salah, walau jarak jauh, persahabatan kami tetap terjalin. Komunikasi kami hampir tidak pernah putus baik lewat chat dan telponan berjam-jam. Bahkan teman-teman baikku di kampus kukenalkan padanya dan ikut ngobrol dengannya. Aku senang ketika temanku bisa menjadi temannya juga. Kemudian setiap liburan semester, aku pasti akan pulang dan disaat itulah kesempatan kami buat bertemu dan pertemuan itu menjadi berkualitas karena kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam dan tentunya aku bisa melepas rindu padanya.
Selama kami bersahabat, tentunya semua kisah dan hari-harinya kutahu semua. Kebiasaannya sehari-hari, kesukaan dia apa, keluarganya bagaimana, temann akrabnya siapa aja, masalah hidupnya, bahkan wanita-wanita yang pernah mengisi hari-harinya. Kisahnya sudah menjadi cerita sehari-hari pengisi persahabatan kami. Berusaha untuk selalu ada disaat dia butuh dan menjadi pendengar yang baik untuknya, mungkin itu yang bisa kulakukan sebagai sahabat yang baik. Namun seiring berjalannya kisah persahabatan kami, aku mulai merasa cemburu ketika dia bercerita tentang gebetan ataupun pacarnya. Benar ya kata orang kalau cewek dan cowok itu gak akan bisa bersahabat lama, pasti nantinya akan ada pihak yang menaruh perasaan lebih di dalam hubungan persahabatan itu. Dan disini akulah pihak yang kalah, yang baper dengan hubungan ini. Bukan inginku untuk menyayanginya lebih dari seorang sahabat. Perasaan itu datang seiring dengan lamanya kami bersahabat, tanpa bisa diatur dan dikendalikan. Bahkan ketika aku berulang kali jatuh hati pada orang lain, ketika kami berada di kota yang berbeda, bayang-bayangnya tetap saja menghantui pikiran dan perasaanku. Awalnya perasaan ini mungkin hanyalah ilusi semata, karena dipengaruhi oleh kebiasaan kami yang selalu berbagi kisah sehari-hari. Lalu aku semakin menyadari kalau perasaanku ini nyata padanya. Hatiku sakit dan sedih setiap dia berkisah tentang perempuan impiannya. Aku pun hanya bisa berpura-pura tegar mendengar ceritanya dan sok kuat menjadi pendengar kisahnya. Apalagi di usia kami yang semakin dewasa ini, dia semakin sering bercerita akan melamar seseorang. Dan disitulah hati ini semakin sedih dan gak bisa membayangkan melihat dia bersanding dengan perempuan lain.
Lantas setelah aku berpikir lama untuk jujur akan perasaanku ke dia, aku pun mengutarakan semuanya di penghujung tahun 2020. Aku gak berharap banyak perasaanku akan terbalaskan, karena aku tau dia menyukai gadis lain di luar sana. Apalagi dia terlihat dekat dengan banyak wanita. Hal itu membuat aku begitu tahu diri sebenarnya. Selama kami bersahabat, rasanya dia gak pernah memandangku sebagai seorang perempuan. Dan aku sadar dia memang cuma menganggapku sahabat, gak lebih. Yahh aku tahu dan sadar akan semua hal itu, tapi tetap aja aku ingin jujur padanya. Karena aku gak mau ada penyesalan dalam diri ini nantinya. Apalagi kalau nantinya aku melihat dia menikah dengan perempuan pilihannnya. Setidaknya dia tahu kalau sahabatnya ini, yaitu aku, pernah menyayanginya lebih dari sahabat.
Dalam masa pertimbanganku, aku sudah memikirkan segala resiko yang akan aku terima kalau aku mengungkapkan perasaanku padanya. Bahkan ketika aku menanyakan pendapat teman-temanku, ada yang mendukung dengan niatku ini dan ada juga yang menentang. Banyak yang bilang mending gak usah diungkapin, daripada nantinya persahabatan itu jadi canggung. Atau ada yang bilang kenapa harus cewek yang ungkapin duluan, serasa gak ada harga diri sebagai cewek. Aku setuju dengan pendapat-pendapat mereka tentunya. Benar kalau persahabatan antara cewek atau cowok jika dibumbui dengan perasaan, tentunya persahabatan itu bisa menjadi canggung dan gak akan bisa seasyik sebelum-sebelumnya. Benar juga kalau perempuan yang mengungkapkan perasaan duluan itu masih dianggap tabu dan aneh. Namun ada satu nasihat dari salah seorang temanku yang mengatakan gak apa-apa kalau ingin mengungkapkan, kalau dia memang sahabat yang baik, pasti dia tidak akan menjauh, sebaliknya kalau dia langsung berubah gara-gara ini, berarti dia bukan sahabat yang tepat untukku. Dan akhirnya aku mengikuti nasihat yang terakhir itu. Sekalian aku mau menguji dia apakah dia benar-benar sahabatku atau hanya seseorang yang kukenal sejak lama.
Tibalah pada puncak keberanianku. Aku mengambil telepon genggamku dan menelepon dia. Awalnya bingung gimana bahasa yang tepat untuk mengutarakannya. Semua tertahan di ujung lidahku. Padahal sebelum menghubunginya, aku telah memikirkan kata-kata apa yang nantinya akan kusampaikan ke dia. Sialnya, semua mendadak buyar karena aku terlalu gugup mendengar suara beratnya itu. Kucoba untuk mengalihkan rasa gugupku ini dengan berbasa-basi sejenak, tapi tetap saja kata itu masih sulit keluar dari mulutku. Dan ketika aku benar-benar mau mengungkapkan, tiba-tiba sinyal hilang dan panggilan terputus. Shit, berasa gak direstui untuk mengungkapkan perasaan ini. Oke, percobaan pertama gagal. Malam itu akhirnya ditutup dengan cerita dia tentang perempuan pujaannya.
Sejak hari itu, aku kembali merenung. Sempat berpikir, ini sebenarnya direstui atau engga ya untuk jujur padanya. Seolah semesta tak mendukung niatku ini, aku berpikir percobaan pertama itu sebuah pertanda kalau aku gak usah mengungkapkan perasaan ini. Lama aku berpikir, merenung, dan berdoa. Lantas ketika ada kesempatan kembali, aku menghubungi dia. Lagi dan lagi, semua kembali tertahan di ujung lidah. Kenapa sesulit ini untuk mengungkapkannnya, dada berdegup begitu kencang hingga akhirnya dia mulai mengerti arah pembicaraan kami. Dia pun langsung menebak apa yang mau aku katakan ke dia dan aku langsung megiyakan tebakannya sambil menahan debar jantung yang semakin cepat berdegup. Seperti dugaanku, dia jadi merasa canggung. Di saat itu dia gak langsung menanggapi pernyataanku, dia malah sibuk membahas tentang seorang teman kami yang sedang dia sukai. Hal itu yang membuatku semakin sedih dan rasanya ingin menghilang dari bumi ini. Percakapan hari itu ditutup dengan rasa canggung diantara kami tanpa adanya tanggapan dari dia. Aku gak memaksa dia harus menanggapi di hari itu, karena aku tahu dia pasti terkejut dengan keberanianku yang mengungkapkan duluan tentang perasaanku padanya.
Satu, dua, tiga hari aku masih menunggu tanggapannya. Hari-hari dipenuhi rasa galau dan gelisah. Aku hanya bisa berdoa untuk menghilangkan rasa gugup ku ini. Sebenarnya aku gak mengharapkan jawaban dia mau membalas perasaan ini. Tujuanku mengutarakan hal itu ke dia supaya aku merasa lega dan gak nyesal karena jujur ke dia. Aku cuma mau mastiin tanggapan dia gimana ketika aku menyukai dia. Hal itulah yang membuat aku galau. Karna beberapa minggu setelah aku ngomong ke dia, dia malah diam dan aku pun canggung untuk ngechat dia duluan. Pikiranku jadi kalut dan dipenuhi tanda tanya akan dia. Aku hanya bisa pasrah kalo persahabatan kami akan berakhir. Hingga pada hari natal, dia pun mengucapkan selamat natal padaku dan aku membalasnya dengan sedikit cuek. Alasannya karena aku sedikit kecewa dengan sikapnya yang diam dan gak mau menanggapi sedikitpun perasaanku. Kemudian aku tahu dia sedang pulang ke Medan dan mau bertemu dengan teman kami yang disukainya. Ah, perasaan semakin sedih aja. Mereka berdua bertemu tanpa aku karena kondisku yang gak bisa cuti di bulan desember kemarin.Aku memutuskan untuk jaga jarak dulu padanya agar tidak semakin sakit hati. Kenyataan gak sesuai dengan yang dipikirkan. Dia malah beberapa kali mengomentari story whatsapp ku yang membuatku semakin bertanya-tanya. Harapku cuma satu, plis tanggepin perasaan ini. Jangan didiamkan gitu aja seolah aku gak pernah ngomong ke dia. Sakit tau digituin, padahal untuk mengungkapkan itu aku berulang kali berpikir dan megumpulkan keberanian itu gak mudah. Berasa perjuangn dan perasaanku seperti tidak dihargai, aku hanya bisa diam dalam kecewa. Aku mencoba megikuti alurnya dia dengan tetap membalas chatnya kayak biasanya.
Di tengah kegalauan dan kekecewaan hati, aku semakin kecewa padanya disaat aku tahu dia memberikan sesuatu ke teman kami tapi dia bawa-bawa namaku agar teman kami ini mau menerima pemberiannya. Air mata pun tak terbendung lagi mendengar ceritanya. Perasaan ini berasa gak berharga banget. Kalau dia memang menyukai teman kami, tolong jangan bawa-bawa namaku. Sungguh sakit banget digituin. Dia mendekati cewek tapi melibatkan namaku yang dia tahu aku memiliki rasa padanya. Di puncak emosi dan kesedihan, aku langsung ngechat dia melampiaskan apa yang selama ini tertahan di hati. Dan yang lebih menyedihkan, dia masih sempat-sempatnya bertanya apa yang dibilang teman kami ini ke aku. Rasanya semakin emosi membaca balasan chat dia, tanpa pikir panjang langsung deh aku blokir dia di semua sosial media. Malam itu tangisanku pecah dalam kegelapan dan kesunyian malam.
Hampir dua bulan aku memblokirnya dan gak ada komunikasi sama sekali. Ada rasa rindu tentunya menghampiri, rindu akan canda tawa dengannya, rindu bercerita tentangnnya, tentang hari-hariku yang saat itu sedih dan sepi. Aku berusaha menenangkan diriku, menguatkan hati kalau aku bisa tanpanya. Kemudian ketika aku menceritakan perasaan ini ke salah satu temanku, dia membuatku semakin tenang dan berpikir jernih. Dia menyarankanku untuk membuka blokirannya tapi jangan lagi mau berhubungan intens seperti biasanya. Apalagi disitu aku berpikir, aku begitu jahatnya sebagai seorang sahabat. Aku merasa gak begitu dewasa dengan perasaan ini, dan malah mengorbankan persahabatan kami hanya gara-gara perasaanku padanya. Akhirnya aku pun kembali membuka blokiran dia, tapi tak lantas aku langsung menghubunginya. Aku diamkan untuk beberapa hari, melihat story-storynya tanpa menanggapi, kemudian ketika aku melihat storynya yang galau, aku pun menanyakan kabarnya.
Dari situ perlahan hubungan kami kembali membaik. Walaupun agak canggung di awal, tapi setidaknya aku tidak menjadi sahabat yang jahat lagi. Kini aku mencoba menghilangkan perasaanku padanya dan memperbaiki persahabatan kami yang rusak gara-gara keegoisan perasaan ini. Kalau ditanya bagaimana perasaanku padanya, tentu perasaan itu belum hilang. Jujur aku masih sedih kalau mendengar cerita dia tentang orang yang disukainya. Gak tahu apakah aku termasuk bodoh atau gimana, sekarang aku cuma ingin melihat dia bahagia dengan wanita pilihannya. Aku berdoa semoga dia wanita pilihannya bisa menjadi penolong yang tepat baginya, yang membawa perubahan baik di hidupnya. Pada akhirnya mungkin memang takdirku hanya sebagai sahabat untuknya. Dan aku entah sampai kapan bisa membuka hati kembali untuk seseorang, karena rasanya sampai akhir aku akan tetap menyayanginya dalam doaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar