Senin, 09 Mei 2016

Pobia ooo Pobia......

Senin sore hujan turun dengan sangat derasnya
Hal yang paling menyenangkan di saat seperti ini ialah berlindung di balik hangatnya selimut
Ditambah dengan secangkir coklat hangat atau mi kuah super pedas
Pastilah hujan di sore ini terasa menyenangkan

Hujan deras di sore hari diiringi oleh gemuruh petir yang begitu kuat
Terjebak disituasi yang seperti ini di kampus sangatlah menyiksa bagi seorang pobia petir
Andaikan berada di dalam kamar, pasti bisa berlindung di balik selimut
Tapi sayangnya tidak
Melihat kilatan dan mendengar gemuruh petir terasa begitu menyiksa
Seketika badan gemetar dan tubuh terkulai lemas
Untuk melangkah pun rasanya tidak sanggup
Petir ini seolah telah merenggut energi si pobia
Si pobia pun hanya bisa terduduk lemas di dalam kelas
Menyendiri di sudut kelas berusaha melawan rasa takutnya
Berusaha untuk mengabaikan suarah gemuruh itu
Tapi percuma, tubuhnya semakin gemetar tiap mendengar petir yang semakin kuat

Benci situasi seperti ini
Ketika semua yang lain santai duduk sembari menunggu hujan reda
Namun si pobia hanya bisa tersenyum getir menyembunyikan rasa takutnya tersebut
Mencoba menyembunyikan rasanya percuma
Ekspresi tubuh yang tak henti bergetar menjelaskan betapa takutnya ia terhadap petir tersebut

Hujan yang diiringi gemuruh petir ini selalu mengingatkan akan kejadian yang memilukan
Awal mula penyebab si pobia mulai takut akan petir
Kala itu tubuhnya yang mungil tengah berlari di bawah hujan
Dengan seragamnya yang basah, dia berusaha menerobos derasnya hujan
Pikirannya yang polos hanya ingin bisa sampai rumah dengan cepat
Berusaha untuk menghubungi orang terdekat, namun tak ada yang peduli
Dan dia pun memutuskan untuk basah-basahan daripada menunggu sendirian di tempat yang sepi
Berlari di bawah hujan dengan berlinang air mata
Karna emang situasinya begitu menyedihkan
Hujan, sepi, dan tak ada yang bisa membantunya
Dia hanya bisa berpasrah sambil berlari sekencang mungkin
Tapi tiba-tiba kilatan petir muncul dan langsung menyambar apa yang ada di depannya
Nyaris mengenai dirinya
Seketika dia langsung terduduk lemas, menangis dengan gemetar
Dia begitu takut kala itu
Namun tak ada satu pun orang lewat untuk menolongnya

Lama dia terduduk di pinggir jalan
Dengan badan yang menggigil dan kaki yang lemas, dia melanjutkan perjalanannya
Tangis yang semakin terisak-isak, dia tetap berlari
Rumah yang dituju semakin dekat
Begitu sampai, dia langsung masuk ke kamar dan marah pada sekitarnya
Mengurung diri dengan bayangan akan kejadian petir itu
Berharap dia bisa segera melupakannya
Namun nayatanya itu menjadi suatu pobia baru bagu dirinya

Kenapa harus ada kenangan buruk itu?
Pobia ini begitu menyiksa
Seolah memperlihatkan sisi lemahnya dia
Capek, lemas tiap ada petir
Kapan pobia ini akan berakhir?
Sepertinya dia butuh sebuah terapi untuk menghilangkan pobianya tersebut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar