Jumat, 17 Juni 2011

Belajar Bersyukur


           Pagi-pagi, tampaklah Vivi keluar dari rumahnya yang nampak kecil. Dari sana dia bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dia memakai sepatunya yang sudah sangat tidak layak dipakai.
            “Huft, parah banget nih sepatu. Lebar banget koyaknya. Andaikan uang ibu banyak, pasti aku udah beli sepatu baru,” gerutu Vivi dalam hati.
            Ya, begitulah kehidupan Vivi yang sederhana. Ibunnya hanya bekerja sebagai buruh pabrik, sedangkan ayahnya bekerja sebagai TKI di luar negeri. Kehidupan mereka sangat kekurangan. Jangankan untuk beli sepatu baru, untuk makan aja mereka sangat susah.
            Setelah selesai memakai sepatu, Vivi berangkat ke sekolah. Tak lupa dia pamit sama ibunya. Dia melangkah dengan menyeret kakinya, agar orang-orang tidak melihat sepatunya yang rusak. Beberapa menit dia menunggu angkot, dan akhirnya dia naik ke sebuah angkot yang menuju ke sekolahnya.
            Begitu naik, dia memilih tempat duduk yang paling sudut agar orang-orang tidak memperhatikannya. Beberapa saat kemudian, Lala, teman sekolah Vivi naik angkot di mana Vivi berada. Dia duduk di sebelah Vivi.
            “Hai Vi,” sapanya senyum.
            ‘Hai,” sapa Vivi balik. Kemudian mereka diam sesaat di angkot. Lala memperhatika Vivi dari atas sampai bawah, kemudian dia melihat sepatu Vivi yang rusak.
            “Vi, sepatu lo kenapa? Kok sepatu butut gitu masih lo pakai?” tanya Lala yang mengejutkan Vivi.
            “Ee, anu, sepatu putih gue gak nampak, udah gue cari kemana-mana, tapi gak ketemu-ketemu. Gue sih tadi mau pakai sepatu pink, tapi gue takut dimarahi. Terus gue cari sepatu hitam, yang ada cuma ini. Gue lupa beli sepatu. Terpaksa deh gue pakai yang ini,” jawab Vivi bohong.
            “Mendingan lo beli aja nanti, kebetulan gue sama anak-anak yang lain mau belanja nanti. Lo ikut ama kita aja,” ajak Lala.
            “Ee, gue lupa bawa uang nih,” Vivi berusaha ngeles.
            “Lo pinjam uang gue aja. Tapi begitu lo bawa uang, lo ganti uang gue,” Lala menawarkan bantuan yang membingungkan buat Vivi.
            “Tapi gue gak enak ama lo,” Vivi berusaha menolak.
            “Uda, gak pa-pa. Santai aja kali. Lo kan anak pengusaha, pasti lo cepat mengembalikan uang gue. Iya gak?”
            “Iya sih, tapi..”
            “Udah, lo pokonya lo ikut,” paksa Lala.
            “Eee, iya deh,” akhirnya Vivi menerima ajakan Lala.
            Begitulah Vivi, dia malu mengakui keadaannya yang sebenarnya di depan teman-temannya. Dia mengaku kalau Ayahnya seorang pengusaha terkenal di Jakarta dan Ibunya seorang desainer yang terkenal juga. Selama ini dia selalu mengarang cerita tentang kehidupannya dan teman-temannya percaya dengan ceritanya.
            Sepulang sekolah, Vivi dan teman-temannya langsung menuju ke sebuah mall yang terkenal di Jakarta. Teman-teman Vivi berbelanja sangat banyak, sedangkan Vivi hanya bisa menelan air liurnya melihat harga barang-barang yang ada di mall itu. Ketika mereka sampai di sebuah toko sepatu, Lala mengingatkan vivi agar dia membeli sepatunya.
            “Kok cuma dilihati? Pilih donk salah satu,” Lala membantu Vivi mencarikan sepatu.
            “Gue bingung nih milihnya,” jawab Vivi bohong. Tiba-tiba Lala memberikan salah satu sepatu kepada Vivi.
            “Ini aja, kayaknya ini pas deh sama lo,” Lala mencocokkan sepatu itu dengan kaki Vivi. Dan ternyata memang pas di kaki Vivi. “Pas kok. Udah, yang ini aja.”
            Vivi melepaskan sepatu itu dan melihat label harganya. “Ha? Rp.478.000,00?? Gila, mahal banget. Bagus sih bagus, tapi harganya juga ikutan bagus,” gerutu Vivi dalam hati.
            “Gimana?” tanya Lala memastikan.
            “Ya udah deh, yang ini aja,” kata Vivi akhirnya. Kemudian mereka menuju kasir untuk membayar sepatu itu. Lala memberikan sejumlah uang kepada pegawai kasir itu.
            Setelah membayar sepatu, mereka pun melanjutkan belanja mereka ke toko-toko baju. Lagi-lagi, Vivi membeli baju-baju dengan harga mahal. Setelah lelah berbelanja, mereka singgah di salah satu cafe yang ada di mall itu.
            Sambil duduk-duduk, mereka menikmati minuman yang sudah mereka pesan. Kemudian teman-teman Vivi sibuk dengan BlackBerry mereka masing-masing. Vivi hanya bisa melihat teman-temannya. Dia iri kepada teman-temannya. Jangankan BB, hp aja dia gak punya. Tiba-tiba, Sheila melihat Vivi tidak mengeluarkan BB seperti yang mereka punya.
            “BB lo mana Vi?” tanya Sheila heran. Vivi pun terkejut dengan pertanyaan Sheila.
            “Iya, dari kemaren, kita gak pernah tuh melihat lo megang BB?” kata Chika menambahkan.
            “BB gue di sita nyokap gue gara-gara nilai gue turun,” lagi-lagi Vivi berbohong. “Jadinya sekarang gue gak bisa BBM-an deh.”
            “Kasihan banget lo ya, ya udah, sabar aja,” Lala menghibur Vivi.
            “Makasih ya La,” kata Vivi.
            Setelah selesai minum, mereka pun pulang. Di perjalanan, mereka bersendau gurau di dalam mobil Chika. Akhirnya, mereka sampai di sebuah rumah yang besar. Vivi turun di situ. Dia mengaku kalau itu rumahnya dan teman-temannya percaya. Setelah teman-temannya benar-benar menghilang dari pandangannya, Vivi berjalan menuju rumahnya.
            Sampai di rumah, Vivi masuk diam-diam agar ibunya tidak melihat beberapa belanjaan Vivi. Dia pun berhasil masuk ke kamarnya tanpa ketahuan Ibunya. Dengan cepat Vivi meyembunyikan belanjaanya di sudut kamar dekat lemari. Kemudian dia mandi dan tidur-tiduran di kamarnya.
            “Aduh, gimana ini? Apa yang harus kulakukan untuk melunasi hutangku sama Lala besok?” Vivi menghitung total hutangnya. Dan ternyata total hutangnya Rp.876.000,00. “Gila, banyak banget hutang gue. Gimana ini? Kalau kuminta sama Ibu, pasti ibu marah. Aduh, mati gue.”
            Tiba-tiba, Ibu Vivi masuk ke kamar Vivi. Ibu vivi memberikan sejumlah uang kepada Vivi.
            “Ini Vi, uang sekolah mu yang udah nunggak sama biaya administrasimu yang lain. Ibu baru gajian, ayahmu juga baru ngirim uang. Jadi baru sekarang deh ibu bisa bayar administrasimu sekolahmu,” Ibu memberikan uang sejumlah Rp. 900.000,00. “Jangan lupa dibayar ya Vi.”
            “Iya bu,” angguk Vivi. Kemudian ibu Vivi keluar kamar. Viv menghitung jumlah uang tersebut. “Aha, apa gue pakai aja dulu uang iini? Kalaun uang sekolah kan masih ada waktu untuk ngelunasinya.”
            Keesokan harinya, Vivi membayar hutangnya sama Lala.
            “Ini La, makasih ya,” kata Vivi.
            “Ok, sama-sama,” jawab Lala ramah.
            Seminggu kemudian, Vivi dipanggil guru BP ke kantor.
            “Vi, mana uang sekolahmu sama uang administrasimu yang lain? Ini sudah lewat dari tanggal yang sudah dijanjikan ibumu,” tanya pak Lamhot tegas.
            “Maaf pak, ibu belum punya uang,” jawab Vivi bohong.
            “Jadi gimana ini? Kalau begitu, sabtu ini, semuanya harus sudah lunas. Bapak gak mau tahu.”
            Vivi mengangguk pelan. “Iya pak.” Dia meninggalkan kantor dengan raut wajah sedih. “Aduh, apa yang harus gue lakukan dalam waktu 3 hari? Apa gue pinjam uang sama Lala? Dia kan baik, kalau gue ceritai semuanya yang sebenarnya, pasti dia ngerti.”
Sore harinya, Vivi memberanikan diri datang ke rumah Lala dan menceritakan semuanya kepada Lala.
            “Apa?? Lo ternyata cuma anak TKI?? Dan sekarang lo berani minjam uang ke gue? Enak aja lo. Sana pergi,” bentak Lala sambil mengusir Vivi dari rumahnya.
            “Sialan lo La, ternyata cuma segitu aja nilai pertemanan lo. Dasar cewek matrek,” teriak Vivi dari luar ruamh Lala. Kemudian dia melangkah dengan lemas. Tiba-tiba dia mendengar sebuah percakapan seseorang dari telepon. Selesai bertelepon, Vivi menghampiri orang itu.
            “Maaf mas, tadi saya dengar mas lagi butuh seseorang untuk mengantarkan narkoba ke sebuah tempat. Saya bersedia mengantarkannya mas,” Vivi menjelaskan maksudnya.
            “Serius dek?” tanya lelaki itu memastikan.
            “Iya mas,” jawab Vivi mantap.
            “Ya udah, kalau emang adek mau, datang aja ke alamat ini,” lelaki itu memberikan sebuah alamat kepada Vivi, kemudian dia pergi.
            Vivi mengamati alamt tersebut. “Cuma ini satu-satunya jalan tercepat untuk mendapatkan uang. Toh juga aku gak makai atau mengedarkan, aku kan cuma mengantar barang haram tersebut. Jadi, aku gak akan terlibat masalah hukum,” Vivi berusaha memantapkan hatinya.
            Keesokan harinya, Vivi menghampiri alamat tersebut. Teryata itu sebuah rumah kosong yang sering dia lewati saat pulang sekolah. Ketika dia hendak menuju rumah itu, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
            “Vivi, jangan masuk ke sana!” teriak seseorang dari belakang Vivi. Vivi melihat ke belakang dan ternyata di sana ada Rina, teman SD nya dulu.
            “Lo tau gak itu rumah apaan? Itu rumah bandar narkoba,” kata Rina setelah dia berada di dekat Vivi.
            “Gue tau Rin, rencananya gue mau kerja di rumah itu,” kata Vivi sedih.
            “Loh, kenapa?” tanya Rina kaget.
            Vivi pun menceritakan masalahnya saat ini. Rina mendengarkannya dengan sedih.
            “Gini aja, lo besok datang ke rumah gue dan kita pergi ke suatu tempat,” kata Rina kemudian.
            “Ke mana?” tanya Vivi.
            “Udah, pokoknya lo datang aja. Jadi sekarang pulang, jangan mau masuk ke rumah itu,” Rina menyadarkan Vivi agar dia tidak terjebak dalam kasus narkoba.
            Keesokan harinya, Vivi datang ke rumah Rina. Setelah itu, mereka pergi ke suatu tempat seperti yang di bilang Rina. Mereka sekarang berada di sebuah rumah yang sangat tidak layak dihuni. Di dalam rumah tersebut, ada seorang kake yang sudah sangat tua yang tergeletak tak berdaya di sebuah tempat tidur.
            “Hai kek, kenali kek, ini teman Rina, namanya Vivi,” Rina memperkenalkan Vivi pada kakek itu. Rina pun menceritakan kehidupan kakek tersebut yang sangat menyedihkan. Vivi pun sampai menangis melihat keadaan kakek tersebut. Tiba-tiba, ada seorang anak kecil yang menangis.
            “Itu siapa?” tanya vivi.
            “Itu cucu kakek. Sebelum kakek tak berdaya seperti ini, kakek yang merawat dia. Dan sekarang, kakek gak bisa berbuat apa-apa lagi untuk dia,” kemudian air mata mengalir di pipi kakek itu.
            “Udah kek, jangan sedih. Kan ada Rina yang akan merawat kakek dan cucu kakek,” Rina berusaha menghibur kakek itu. Kemudian mereka membersihkan rumah kakek itu dan memasakkan makanan untuk kakek itu. Setelah itu, mereka pamit pulang ke rumah.
            Di tengah jalan, Vivi kembali menangis.
            “Lo kenapa Vi?” tanya Rina heran.
            “Gue malu Rin, karena gue kurang mensyukuri hidup gue. Ternyata masih ada orang yang hidupnya lebih susah dari gue. Gue malu, karena gue yang masih sehat, malah memilih jalan pintas untuk mendapatkan uang. Terimakasih ya, karena lo, gue jadi sadar akan hidup ini,” Vivi menangis di pelukan Rina.
            “Udah, jangan sedih. Itulah gunanya teman kan,” Rina menghibur Vivi. Kemudian mereka melepaskan pelukan mereka masing-masing. “Ini, lo pakai uang gue aja dulu. Lo bisa baliki uang gue kapan aja,” Rina memberikan sebuah amplop kepada Vivi.
            “Makasih ya Rin. Lo baik banget deh,” Vivi menerima amplop tersebut. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah mereka masing-masing.
            Keesokan harinya, Vivi melunasi administrasi yang seharusnya sudah dibayarnya dari seminggu yang lalu. Vivi pun akhirnya bisa melunasi hutangnya kepada Rina dari hasil kerjanya dan juga hadiah yang diterimanya dari polisi karena dia telah berjasa membantu penangkapan bandar narkoba yang selama ini paling dicari-cari polisi.
            Di sekolah, Vivi menjadi murid yang berprestasi dan juga dia berhasil mendapatkan beasiswa  kuliah di luar negeri dan dia pun berhasil menjadi orang sukses berkat usaha dan kerja kerasnya selama ini.

2 komentar: